Kotorny aku Memaknai Puji

Menggerakkan lidah untuk berkata kata adalah hak preogratif tiap orang
Yah itu semua terserahku
Terkadang untuk menyapa hai, dan melontarkan senyum saja aku malas melakukanya
Apalagi untuk mengapresiasi atau memuji
                Karena takut dikira penggombal
                Karena takut dikira Cuma bisa cari muka
Dan parahnya, terbesit dibenak kita “ah untuk apalah aku melakukan sesuatu yang sepertinya tidak berguna”
Sepeleku memandangnya
Namun ternyata sepata dua patah kata ini mampu membuatnya percaya
Percaya kepada kemampuannya
Percaya bahwa ia bisa
Dan membuat ia bergerak, terpacu untuk berkarya
                Yah mulai sekarang, coba kulunakkan hatiku
                Kubuang jauh paradigma burukku
                Untuk berani berkata, mengakui kalau ia memang bisa
Karena diksi yang mengandung puji, sungguh berarti bagi dirinya dan untuk organisasi tentunya

Ditengah malam, terbesit untuk membahas puji yang selama ini kotor kumemaknainya , ternyata bisa bernilai tinggi.

Surabaya, Kamis 6 oktober 2016

Share:

0 komentar