• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

Dilla Punya Cerita

Mengamati-Memahami-Membagi


    Aku termasuk orang yang suka banget dengerin musik. Kalau ingin moodnya happy, tinggal puterin musik-musik up-beat. Nah kalau pengen sedih-sedihan, tinggal puter aja lagu galau ga ketulungan, nangis deh lo
    Aku mulai dengerin musik di Spotify sejak tahun 2019 kalau ga salah, dan sampai sekarang (2025). Dulu awal-awal pakai spotify masih pakai akun gratisan, karena kan berlangganannya harganya Rp59.900, padahal waktu itu masih belum kerja, nah pas tahun 2020 akhir, aku sudah kerja aku pakai akun yang premium lah, hehehe sudah punya gaji, jadi ada budget untuk hiburan. 
    Dulu pendasarannya mengapa berlangganan spotify karena iklan di spotify sering sekali iklan seram, padahal aku sering putar spotify di waktu-waktu subuh pada saat lari, ga kebayang dong lagi di tempat sepi iklan yang lewat iklan hantu... sangakin seringnya dulu lewat iklan hantu, jaidnya sering kecilin volume atau ya ga diputer lagi tuh spotify nya.. 
    Nah sempat ga berlangganan lagi karena budget untuk hiburan dihentikan karena kembali jobless wkwk. Tahun 2023 aku jadi mahasiswa lagi sehingga aku putuskan untuk berlangganan spotify lagi karena kalau pelajar harganya murce dan ya alesannya karena males ngecilin volume atau lepas headset pas iklan hantu. 
Nah ini observasiku, selama berlangganan dan tidak berlanganan spotify pasti ada bedanya. Aku coba jabarin dan ambil hikmahnya yak
Ketika menggunakan spotify premium enaknya tuh: 
- Bebas pilih lagu apa saja yang kita mau, bebas iklan 
- Lirik selalu tersedia, jadi pas karokean enak 
- Sekarang ada musik videonya, tapi aku jarang lihat juga 
- Cuma, algoritmanya kurang begitu bagus (menurutku). Aku merasa ketika pakai yang premium suggested lagu selanjutnya ga sesuai sama yang kita pilih dari awal begitu loh 
Ketika menggunakan spotify gratisan yang dirasain: 
- Iklan pastinya sering lewat, dan aku merasa iklannya lebih sekarang dibandingkan tahun 2020 an dulu 
- Ga semua lagu disediain liriknya, jadi pas mau karokean mesti buka dari google
- Sekarang untungnya iklan hantunya sedikit, bisa kayak seminggu sekali cuma sekali doang lewatnya
- Tidak bisa langsung jump ke lagu yang kita ingin.
- Nah tapi nih, aku ngerasa algoritmanya lebih bagus. Jadi untuk lagu selanjutnya suggestionnya masih seirama/senada, atau apalah namanya intinya mirip sama lagu di awal yang kita pilih. 
- Kalau ini, mencoba mengambil hikmah karena gratisan seh, ketika ga bebas untuk jump into lagu yang lain, akhirnya mesti sabar

Kalau ada refrensi streaming musik yang lebih asoy, boleh dikasih tahu dong 
#Latihan menulis #gapakaiChatGPTdong


Wrote by Fadilla Arfa Reyza

 

 

Pasca ujian tesis saya disibukkan dengan kegiatan apply kerja. dalam proses tersebut saya harus meng-update CV, linkedin, dan membuat cover letter. ada yang terasa berbeda. kemarin dalam penulisan tugas akhir saya memang banyak memanfaatkan Chatbot AI untuk mencari refrensi, mem-brainstorming outline dalam penulisan, bahkan kadang meminta ia untuk menjadi proofreader atas tulisan yang telah saya tulis. Terasa mudah memang, kalau dulu untuk menuliskan beberapa alinea, mesti harus membaca beberapa artikel, namun sekarang tinggal menuliskan promt sesuai dengan apa yang kita inginkan Chatbot AI akan menyajikan sesuai perintah. Sangking kecanduannya saya, kadang mau chat ke dosen saya meminta refrensi dari chatbot AI. Saya tinggal menuliskan, tujuan saya untuk menghubungi dosen, dan menjelaskan sedikit konteks, dan pesan pun jadi. Lalu tinggal kirim pesan tersebut kepada dosen. Sampai hal seremeh temeh itu, saya minta bantuan mesin. 

 

Saya amati perilaku saya, ini akhirnya berdampak kepada saya ketika menulis cover letter, meng-update CV saya, kirim email ke HR, sampai wa untuk minta rekomendasi kepada atasan sebelumnya saya menggunakan chatbot AI. saya baca lagi tulisan tersebut, kok saya merasa kehilangan ruh, tulisannya terasa hambar, dan hal yang tersedih yang saya rasakan adalah mengapa akhirnya lebih percaya kepada mesin dibandingkan kemampuan sendiri. merasa kemampuan kritisnya hilang, merasa daya kreatifitasnya dimatikan. 

 

Padahal dulu ketika saya belajar di S1 ada mata kuliah namanya penulisan. mata kuliah ini berjenjang, ada penulisan pertama dan penulisan kedua, dan diberikan bobot masing-masingnya 4 sks, ini berbeda dengan kepenulisan jurnalistik yah yang dimana ini dibahas di MKK (Mata Kuliah Keahlian). Ingat dulu, di pertemuan penulisan pertama, kami belajar menulis kalimat yang efektif, sampai belajar titik koma (penggunaan pungtuasi) yang tepat. tidak hanya tataran teori, tapi dipraktikkan, dan diusahakan untuk dibuat menjadi kebiasaan. Jadi kami memiliki grup dengan dosen, dan ada program yang di mana, tiap mahasiswa harus mengirimkan satu kalimat sesuai topik yang ditentukan, lalu setelah semua mahasiswa mengirimkan kalimat di grup, nantinya dosen akan memberikan evaluasi. Sampai sebegitunya dulu untuk mencapai skill kemampuan menulis. 

 

Kebetulan saya menyukai mata kuliah penulisaan. Di mata kuliah penulisan kedua, saya sangat menyukai bagian penulisan opini. Ada perasaan yang senang karena bisa menyampaikan opini, dengan gagasan yang berdasar. Ingat sekali, ketika nilai saya tidak sesuai dengan harapan, saya sampai sebegitu sedihnya, nangis di balkon asrama sambil memegang tulisan yang sudah dinilai tidak sesuai harapan (menangis, karena sistem penilaian di kampus dulu Insyahlah objektif). Sampai sebegitu usahanya untuk bisa menulis. Akhirnya saya sungguh sedih ketika sekarang rasanya kemampuan itu sedikit demi sedikit hilang.

 

Dari proses tersebut saya ingin kembali membiasakan untuk tidak bergantung menggunakan chatbot AI untuk menulis. Kembalinya saya untuk mencoba lebih aktif menulis di blog sebagai ikhtiar untuk lebih menjaga skill menulis saya. Semoga Istiqomah… 

 

 








Wrote by Fadilla Arfa Reyza

Keresahan mengenai efek yang diakibatkan dari digitalisasi membuat saya sering bingung dan kepikiran sebelum tidur. Mulai dari kemaanan data, saya yang sering FoMo ketika tidak mengetahui mengenai suatu hal, dan juga merasa tertinggal ketika saya tidak memiliki kemampuan untuk menegelola konten. Sebagai anak komunikasi, ada perasaan bahwa saya gagal karena komunikasi yang saya lakukan masih sebatas tulisan, saya belum mampu berkomunikasi lewat desain komunikasi audio-visual seperti konten yang mentereng di media sosial. Sampai-sampai saya pernah menjadikan itu sebagai target skill yang harus saya pelajari, namun lagi-lagi karena saya kurang berminat akhirnya tidak pernah kesampaian. 

Belakangan ini saya membaca buku dari Tom Nichols dengan judul The Death of Expertise. Saya beli buku ini sekitar september 2024, namun selesai dibaca November 2024, Hummm apakah ini efek dari lebih sering membuka media sosial. Entalah, lagi-lagi saya mencoba menyalahkan eksternal padahal kendali ada pada diri saya sendiri. 

Di buku tersebut menjelaskan secara sistematik, mengapa kita sekarang begitu menjadi manusia yang sangat praktis, dan mudah mempercayai berdasarkan apa yang paling atas muncul di atas beranda pencarian kita. Kebenaran bukan lah kebenaran yang sebenarnya, kebenaran adalah ketika informasi yang kamu cari sesuai dengan kepentingan dan prefensimu. Buku ini related banget kejadian yang sekarang... 

Sudah sampai paragraf ketiga saya bingung, saya mau mengulas buku atau menceritakan unek-unek...teman-teman yang punya waktu silahkan saja membaca sampai habis yah, semoga mendapatkan hikmah dari point of view saya mengenai era sekarang. 

Langkah untuk akhirnya mau menulis blog kembali dimulai karena membaca buku tersebut dan habis mendapatkan informasi dari kuliah tamu dengan tema "otoritas agama di era digital". Saya awalnya yang merasa bahwa saya gagal tidak mampu komunikasi secara audio-visual, akhirnya tergantikan dengan pandangan "tidak seharusnya saya mengikuti pasar", yang artinya kebanyakan orang. kalau memang saya tidak mampu mengubah keadaan yang menjadi lebih melek literasi, yang terpenting saya tidak terbawa arus. Menurut saya ya, konten-konten pendek sekarang membuat kita akhirnya malas untuk membaca, lebih parah dari itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran. belum selesai satu konten, kita dengan gampang untuk jump ke konten yang lainya. 

Dari yang saya amati secara keseluruhan, media mencekoki informasi berdasarkan apa yang disukai audience. Audience dibuat betah untuk lama-lama dengan gawainya. Tujuannya tidak lain tidak bukan adalah "uang". Jual produk-produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan, influencer akhrinya dapat kebagian untuk endorse, Ads bermunculan, dah lah intinya uang. kembali lagi mau mengikuti arus atau keluar dari arus? 

Bagi saya, kita tidak bisa mengutuk kemajuan teknologi sekarang, butuh bijak lagi untuk meimbang-nimbang lebih banyak manfaat atau mudhorotnya. Kalau memang butuh yah digunakan, yang terpenting bisa lebih aware dan mindful ketika menggunakan teknologi, tidak terbawa arus akhirnya malah membuat kita jauh dari kata produktif. Cuma saya mau berbagi sedikit pengalaman saya, semenjak saya break dari IG saya merasa jauh lebih tenang, dan menjadi lebih tidak praktis. Mengapa lebih tenang? saya bisa lebih fokus dengan diri saya, tanpa merasa takut ketinggalan hal yang sedang ter- update. Mengapa lebih tidak praktis, karena saya tidak lagi terburu-buru menonton potongan-potongan video yang sebenarnya saya tidak butuhkan. Memang tetap saya akhirnya mengganti waktu "me time" saya dengan menonton anime. Tapi langkah itu dilakukan karena secara mudhorot "bagi saya" tetap lebih banyak ketika menggunakan sosial media. 

Sekarang semua kembali lagi kepada butuhnya kamu.



Wrote by Fadilla Arfa Reyza

 Hutang Batinku Lunas



Mengulur waktu sedikit ke pandemi kemarin, masih ingat sekali bosannya kemarin hanya di dalam kamar kos ukuran 4 x 3. mau nonton bioskop ga buka, mau ke cafe takut tertular, mau jogging juga takut di keramaian. pokoknya semuanya aktivitas dilakukan di dalam rumah. ada satu aktivitas yang paling suka aku lakukan ketika sudah penat banget yaitu nonton konser Tulus di youtube. jatuh sukanya aku dengan dia memang sudah terjadi sejak kuliah dulu. jatuh suka ku beralasan, bukan karena rentetan lagu yang lagi trend aja, namun memang lagunya mengajarkan ku untuk jauh lebih memahami diri, lebih realistis dalam percintaan, dan mengajariku untuk belajar menjadi lebih baik dan bersemangat. sebut saja lagu Untuk Matahari, sewindu dan manusia kuat. 

Perasaan selalu campur aduk ketika nonton konser virtual di youtube. tiba-tiba bisa nangis sendiri karena mengasihi diri yang sudah patah semangat dan masih belum bertindak yang bodoh, menangis karena mengenang orang-orang yang sudah banyak memberikan warna pada kehidupan ini, dan  tiba -tiba bisa ikutan baper karena lagu yang berbau falling in love dan bisa saja tiba-tiba menjadi berenergi karena bersemangat dengan lagunya. Wahhh nonton secara virtual aja bisa begini gejolak emosinya. Apalagi menontonnya secara langsung batinku. Akhirnya menonton konser tulus menjadi wishlist yang harus aku lakukan setelah pandemi. 

Setelah dua tahun tidak boleh adanya konser dan pada akhirnya maret 2022 Sandiaga Uno selaku menteri pariwisata dan ekonomi kreatif mengumumkan bahwa konser sudah diperbolehkan. wah senang pastinya karena sepertinya keinginanku akhirnya bisa terwujud. Sempat aku tunggu-tunggu dan aku juga kepoin juga untuk IG teman tulus. ternyata belum ada list konser tulus dalam waktu dekat. Keinginan untuk ini menghilang secara tidak sengaja karena tugas luar kota yang padat merayap. 

Tetiba di pertengahan Oktober, temanku memberitahukan bahwa bakalan ada konser tulus di akhir november. Waktu itu sempat galau, karena tugas luar kota yang tak kunjung usai. Rasanya tidak realistis kalau akhirnya pulang dari Aceh ke Medan di tengah tugas luar kota yang perjalanan jauh sekali. Dengan hati yang tidak ikhlas akhirnya ku kubur dalam- dalam keinginan ku untuk nonton konser yang sudah ku idamkan sejak 2020 kemarin. Di pertengahan November aku mendapatkan arahan untuk pulang ke Medan karena alasan yang kurang baik memang dari kantor. Pada waktu itu perasaan antara sedih dan senang. Senangnya akhirnya aku bisa nonton konser Tulus di tanggal 4 November karena sudah diharuskan pulang ke medan di minggu ketiga. Sedihnya mulai overthinking tujuh keliling karena isu kantor yang kian men - drama. Ah sudahlah, kita hadapi saja apa yang sekarang begitu hiburku. Tanpa pikir panjang akhirnya tiketnya dibeli. Mau pilih yang di tribun yang utama, namun ternyata tiketnya sudah habis. akhirnya dapatlah di bagian tribun yang agak kesamping. Tapi biarlah yang penting aku nonton. 

Pulang di minggu ketiga dengan kolega kantor dan sudah susun rencana sampai teknis perginya kapan, kalau kemalaman tidurnya dimana dan sampai menghafal lagu tulus bagi temanku yang belum hafal lagunya. Disepanjang jalan yang diputar lagunya tulus. Namun tiba-tiba ada kabar untuk tugas luar kota lagi, hiksss dalam batinku sepertinya akan gagal. Sempat resah dan ternyata bukan aku yang dipilih untuk dinas luar kota. dan ternyata teman ku satunya yang dia padahal juga sudah membeli tiket. namun dengan berat hati akhirnya dia harus batalkan itu. 




 Akhirnya tinggal lah aku dengan temanku yang satunya. Aku awalnya agak kikuk keluar sama cowok dan berdua. Ah cuman pikirku kalau sendirian ntar bakalan ribet untuk pulangnya karena kemalaman juga kan. akhirnya kami berdua sepakat untuk tetap menghadiri konsernya, meskipun tanpa adanya temanku yang satunya. H-1 sebelum acaranya kami sudah langsung menukarkan tiket dan di sepanjang jalan aku merasa deg-degan, rasanya seperti mau ketemu cowok dari dating apps. “Finally besok aku akan ketemu dengan tulus,” sepanjang jalan rasa itu saja yang muncul. 

Pas di hari H, dari bangun tidur wajahku sudah sumringah. Bergegas untuk pergi bekerja dan kusiapkan baju ternyaman untuk datang ke konser tulus. Sepanjang jalan mau pergi kerja, full nyanyi lagu Tulus. Sepulang presentasi dari sekolah tidak sengaja aku memakai gelang yang seharusnya dipakai ntar malam. Dan setelah dipakai tidak bisa dibuka lagi. teman temanku pada nyorakin “kemaruk”. Ah yah sudahlah biar dalam batinku, dan akhirnya aku timpa dengan jam biar tidak kelihatan. 

Eng ing eng, malam jam 19.00 kami sudah ready, dan bergegas pergi ke tempat konser yaitu di Pardede Hall. Asli rame parah, mungkin karena efek sudah lama tidak menghadiri konser juga yah. Seluruh tribun terisi penuh. sebelum tulus naik ke atas panggung, kami dihibur oleh band lokal, yang lumayan menghibur. ada dace dari GJ manajemen, Apricot Band, Jeremia Frans feat Boys On Stage, dan finally di jam 09.00 Tulus naik ke atas panggung. Suara meriah dari seluruh tribun sambil teriak “Tulus, Tulus, Tulus”. uhhh merinding kalau mengingat moment tersebut. 

Lagu pertama yang diputar adalah lagu 17, gemuruh suara sambil mengikuti beat musik. Rasa-rasanya energi ini ter charge 1000 % meskipun lelah seharian kerja. Untuk di awal awal diputar lagu dengan beat cepat, seperti Manusia Kuat, Labirin, dan berjalan ke lagu yang beatnya tidak begitu cepat seperti Sewindu, Jangan Cintai Aku Apa Adanya dan lagu Monokrom. Tiba-tiba tanpa disadari mata ini basah, bukan karena ngantuk tapi karena sendu. Sambil menghayati setiap lirik lagu monokrom, teringat wajah ibu, nenek, saudara dekat teman-teman yang sudah hadir dalam hidup, yang sudah ambil bagian mengisi cerita dalam hidupku. baik cerita bahagia, suka, sedih, kecewa, semua pasti ada pesan dari semuanya. langsung ku lap air mataku dan meneruskan untuk menghayati tiap lirik dan nyanyi bersama-sama orang satu tribun, itu pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. lagu terakhir ditutup dengan lagu hati-hati dijalan, sungguh apik. mengisyaratkan untuk Tulus meneruskan perjalanan untuk berbagi inspirasi melalui lagunya, dan kami untuk tetap kuat, tulus dan ikhlas menjalani hidup meneruskan cerita kami masing - masing. 
















k

Wrote by Fadilla Arfa Reyza


Pergi ke tangkahan merupakan impian yang sudah kubulatkan untuk dicapai di tahun 2021. Ini berawal dari film semesta yang diproduseri oleh Nicholas Saputra. Film tersebut bercerita mengenai banyaknya kerusakan alam dan bagaimana ada beberapa komunitas yang coba untuk mencoba memperbaiki alam dengan langkah-langkah kecil yang berdampak pada lingkungan. Hal juga yang membuat saya untuk kembali menjadi motivasi untuk melakukan diet plastik. Pikirku “agar lebih kuat lagi motivasinya untuk diet plastik, aku harus ke sana- ke tangkahan untuk melihat gajah” kutuliskan hal tersebut di wishlist buku target ku.  



Sempat terkendala budget, tidak adanya teman, kerjaan yang terus menggunung menjadi alasan untuk sudahlah sepertinya pergi ke tangkahan adalah hal yang tidak bisa kita capai di tahun 2021. Mencoba untuk berdamai dengan diri di akhir tahun. Sambil menutup sedih catatan dan melingkari bahwa pergi ke tangkahan adalah hal yang tidak bisa dicapai. 


Di tahun 2022 ternyata hal tersebut terwujud. Ini bermula dari selingan cerita di kantor mengenai destinasi yang pernah dikunjungi. Dia mengatakan bahwa dia suka ke tangkahan. seakan gayung pun bersambut. Wahhh bisa nih batinku. Tanpa berpikir panjang dan akhirnya kami membuat rencana untuk pergi ke tangkahan. Ternyata tidak hanya aku yang riang gembira mendengar rencana tersebut, banyak temanku juga merasakan hal yang sama. Dibuat lah deadline kapan keputusan terakhir untuk pergi. Setelah pas tanggalnya eh ternyata hanya 3 orang yang bisa. Ngeri- ngeri sedap kalau kata orang medan. Pergi ke Tangkahan, tidak ada lelaki dan pergi di malam hari. keputusan pergi di hari jumat sore menjelang malam dikarenakan kami ingin di hari minggu bisa fokus untuk beristirahat. 


ketika hari H pergi, antusias sekali meskipun siangnya sudah lelah karena harus motoran untuk kerjaan. Sorenya ketika teng wrap up selesai, langsung ganti kaos dan menenteng tas carrier untuk langsung pergi. Kami langsung bergegas untuk pergi ke Tangkahan dengan mengendarai sepeda motor. Untungnya satu temanku ada yang pernah ke Tangkahan dan sudah beberapa kali ke sana, sehingga untuk masalah per map- an sudah tidak ada masalah lagi. Berkisar jam 18.30 kami pun memutuskan untuk berhenti untuk berbuka puasa dan sholat magrib kebetulan aku dan satu temanku lagi sedang berpuasa. 


Makan dan sholat dilakukan dengan tergesa. Tepat di jam 19.00 kami langsung melanjutkan perjalanan kami yang sudah separuh jalan. Ternyata jalan yang dilalui penuh dengan perkebunan sawit dan minim rumah penduduk. Antara takut dan bersemangat untuk bisa menaklukan tantangan bercampur jadi satu. Pandangan hanya fokus ke depan. Disepanjang jalan yang aku pikirkan hanya satu “besok aku ketemu gajah”. Masalah begal, begu ganjang dan hal-hal aneh yang lainya coba aku tangkal dengan motivasi itu. Dan sepanjang jalan aku katakan kepada temanku “mamaku bangga punya anak seperti aku”. Karena bagiku perjalanan malam, ditengah hutan adalah hal yang tak lazim dilakukan oleh perempuan dan begitu seksi bagiku. 


Alhamdulillah, ternyata kami sampai ditempat tujuan setengah jam lebih cepat dari perkiraan. makin bertambah rasa banggaku. Lega rasanya sudah bertemu dengan ranger yang besok bakalan menjadi pemandu kami. Karena ada perjalanan berkisar 30 menit untuk masuk ke dalam dan itu beneran gelap dan berbatu. Namun untungnya sudah dipandu dengan mereka yang sudah tau medan perjalanan di sana. Jalanan makin parah, penuh dengan batuan, dan terkadang jumpa dengan tanjakan. Untungnya motor supra ku sama kuatnya dengan semangatku. masih sama dengan sebelumnya mulutku tidak henti-hentinya untuk mengatakan “mamakku pasti bangga punya anak perempuan seperti aku”. karena medan jalan yang ditemui lebih parah dari yang sebelumnya. 


Sampailah kami di penginapan tepat pukul 22.00. Tidak banyak hal yang bisa diceritakan ketika di penginapan, karena setelah hari itu ditutup dengan bebersih, sholat dan tidur untuk mengumpulkan energi untuk besok. Tidur terasa tidak tenang, bukan dikarenakan masalah tempat namun aku memang aku agak sulit untuk bisa langsung nyaman tidur di tempat yang tidak bisa kutiduri. 


Moment yang sudah diimpikan sejak tahun 2021 akhirnya tiba. setelah menyeruput mie kuah kami langsung mulai dengan melihat gajah. senang yang muncul berbeda dengan yang biasa. Masih berasa ga nyangka apa yang akhirnya aku bisa kesana. Dari kejauhan kupandang tingkah lucunya gajah. begini ternyata secara dekat hewan yang berperan penting dalam ekosistem hutan. Rasa puas, haru muncul disaat yang bersamaan. Akhirnya aku bisa. 


Tidak berhenti di gajah, ada beberapa destinasi yang harus kami jalani. Aku sebutnya susur sungai. Untuk susur sungai aku tidak begitu excited karena sebelumnya aku sudah beberapa kali melakukannya. Namun tetap bagiku tangkahan adalah yang paling istimewa. dikarenakan banyak spot air terjun yang bagus, dan tebing yang tinggi ditutupi dengan rimbunnya pohon yang semakin membuat takjub. Hal yang lainya dilakukan yah seperti susur sungai biasa. 


bagiku yang berkesan di sini adalah rasa puas yang terbayarkan dan keberanian melawan batas. 


dear tangkahan, I will come there again one day soon. 






Wrote by Fadilla Arfa Reyza

Kita masih sering terjebak oleh pemahaman bahwa berpikir kritis hanya akan digunakan dalam ranah akademis. Bahwa penggunaan berpikir kritis dalam konteks kehidupan sehari-hari yang cenderung simple, malah hanya memakan waktu. sehingga apakah perlu untuk berpikir kritis? 


Keinginan aku untuk membahas berpikir kritis, dikarenakan topik ini menjadi topik yang diminati pimpinan di perusahaan aku untuk dibahas dalam briefing pagi. Jadi di kantor ku, kita biasa untuk melakukan briefing pagi yang tujuannya untuk menambah wawasan yang dapat digunakan dalam proses kerja. 


Nah, pimpinan aku sering banget untuk meminta pembahasan mengenai berpikir kritis untuk dibahas lebih dalam. Misalnya nih, seharusnya tema mengenai berpikir kritis itu hanya dibahas 3 hari, namun beliau bisa menambahkannya menjadi 2 kali lipat, which is 6 kali. 


Aku sempat bertanya juga sih, emang butuh sedalam itu kah kita harus mengkaji mengenai berpikir kritis? apa yah gak cukup dipahami apa itu berpikir kritis, terus membahas bagaimana penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.  


Nah hasil dari pengamatan dan perenungan inilah akhirnya aku juga tersadar pentingnya mengapa kita harus berpikir kritis. Untuk tau mengapa kita harus berpikir kritis, maka sebaiknya kita bedah dulu nih apa sih itu berpikir kritis. 


Berpikir kritis terdiri dari dua kata, yaitu “berpikir” dan “kritis”. Berdasarkan makna dari KBBI, bahwa berpikir itu adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangakan dan memutuskan sesuatu. Sehingga ada data yang itu diolah yang tujuannya untuk make decision. kalau kritis itu maknanya adalah tidak lekas percaya, tajam dalam melakukan penganalisisan. 


Sehingga dari kedua definisi kata tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa berpikir kritis itu adalah kemampuan untuk menganalisis dengan jernih suatu data untuk pengambilan keputusan dan apa yang hendak kita percaya. 


Kita coba contohkan dalam kehidupan kita sehari hari yah, agar lebih real tuh mengenai apa itu berpikir kritis. Misalnya kita mendapatkan berita mengenai “Virus Korona Sengaja Disebarkan Rezim Tiongkok untuk Membasmi Umat Islam di Wuhan”. 


Kita harusnya melihat dulu dari siapa kita mendapatkan berita tersebut. Apakah media yang menampilkan berita tersebut adalah media yang kredibel untuk mengabarkan sebuah berita, seperti kompas.com, CNN, detik.com, dan portal berita lainya yang sejenis. setelah itu kita bisa melihat berita yang sama dari media yang berbeda. Sehingga dari itu kita dapat mengambil kesimpulan apakah kita bisa mempercayai kebenaran berita tersebut atau tidak. 


Apakah dampak yang diakibatkan apabila kita langsung mempercayai berita yang di atas? pertama, berita tersebut akan menimbulkan perpecahan antara umat Islam karena menganggap saudara muslim di wuhan disakiti oleh warga cina yang notabene nya adalah budha. Kedua, ini akan menimbulkan kebencian yang bisa berakibat kepada konflik antara ras dan agama di Indonesia. 


Dalam konteks lain misalnya lagi ketika kita ingin memilih jurusan kuliah, pemilihan jurusan hanya didasarkan kepada ajakan teman, dan tidak mengkritisi apakah jurusan itu sesuai atau tidak dengan diri kita. Apabila seperti itu, maka ketika kuliah nanti, dalam prosesnya pastilah menghadapi banyak masalah. karena ternyata jurusan tersebut tidak sesuai dengan passion. Dan ternyata juga tidak memiliki bakat dalam hal tersebut. Maka akan terasa sangat berat dan bisa jadi kita depresi karena selama 4 tahun bergelut dengan hal yang tidak kita bisa dan tidak kita cintai.


Sehingga sebaiknya kita harus berpikir kritis, untuk menanyakan kembali. Apakah iya, bahwa itu adalah pilihan jurusan yang terbaik. Tanyakan kepada ahli psikologi, konsultan dalam karir, dan yang sejenisnya untuk mengetahui hal-hal apa saja yang butuh dipertimbangakan dalam memilih jurusan. 


Dan melakukan riset yang lainya, seperti nonton youtube yang membahas mengenai proses pemilihan karir, membaca buku, dan lain sebagainya. sehingga keputusan yang dibuat bisa bijaksana .



Sehingga dari ini kita dapat menyimpulkan bahwa berpikir kritis itu penting. karena ketika tidak berpikir kritis maka akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan bahkan merugikan diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. 









Wrote by Fadilla Arfa Reyza


 

    Quote ini sering sekali muncul di feed instagram pebisnis muda, young entrepreneur dan isntagram sejenisnya lah. Ini adalah Quote dari Bob Sadino seorang pebisnis yang memulai usaha dari Nol dan akhirnya bisa memiliki banyak anak perusahaan. Kalimat ini seperti mata pisau. Bisa baik bisa buruk juga. Tergantung yang memaknainya. Biasanya quote itu isinya baik ya, dikaji bagaimanapun hasilnya adalah baik. karena tujuan dari quote bagaimana orang itu bangkit dan akhirnya bisa menuju ke arah yang lebih baik. karena yang biasanya suka membaca quote adalah orang yang lagi galau gitu, full with emotion jadi ketika salah baca quote begitu takutnya malah salah dalam memaknai, karena menafsirkannya dengan perasaan.

    Ketika ada seruan “Jangan banyak berharap, karena pasti banyak sakitnya”, maka membuat seseorang menjadi seorang yang tak punya target, tak punya tujuan mengenai apa yang hendak ia capai. ya sudah jalani, misalnya dalam perkuliahan. Tak usah lah berharap memiliki nilai yang baik, prestasi secara akademik dan non akademik. Karena ketika hal tersebut tidak dapat tercapai maka kamu akan merasakan sakit. biarkanlah berjalan begitu saja. Apabila diterapkan dalam dunia karir. Kita misalkan saja, seseorang ini bekerja sebagai marketing, maka sikap yang akan muncul dari aplikasi akan quote tersebut adalah ya tidak usahlah memiliki target yang banyak dalam menjual produk, laku tak laku yang penting happy, karena apabila tidak mencapai target depresi nanti.  Apakah lantas demikian? Jawabnya pastilah tidak.

    Bagi siswa yang tidak memiliki target dalam belajarnya, ok dalam waktu jangka pendek ketika ia tidak mencapai target tersebut ia tidak menjadi orang yang depresi. Namun secara dampak yang jangka panjang bagaimana? Ia lulus tanpa memiliki keahlian apapun. Padahal ia telah berjuang banyak, waktu, tenaga, uang dan sumber daya lainya namun hasilnya adalah nihil. Karena kita tidak memiliki harap/ target dalam belajar dan akhirnya ia tidak bisa berkontribusi apa-apa dalam masyarakat. Begitupun dengan berkarir, ketika tidak memiliki target maka ia akan dipecat dan untuk kedepan juga bakalan sulit untuk mendapatkan pekerjaan karena ia dipecat akibat tidak memiliki prestasi dalam kerjanya. Setelah dikaji pastilah banyak dapat dampak buruknya.

    Apa jadinya apabila kita menerapkan hal bertentangan dari quote tersebut “Banyak berharap, pasti akan bahagia”. Kita akhirnya membuat banyak harapan. Dalam hal belajar, dalam pekerjaan, dalam keuangan, dalam pertemanan dan lain sebagainya. Setiap lini dalam kehidupan ada targetnya dibuat secara rijid. Semakin tinggi harapannya maka semakin bahagia lah. Idealnya seperti itu. namun ternyata ada hal-hal yang diluar dari kedirian kita yang akhirnya menentukan tercapainya harapan/targetan yang kita buat. Misalnya saja begini, pada bulan Mei aku harus melaunchingkan bisnis jajanan bakso tahu, yang target pasarnya adalah anak sekolah. Sudah ditentukan pasarnya, brand nya seperti apa, sudah menentukan harga, tempat, dan bahkan panjar untuk sewa tempat. Namun ternyata pandemi corona datang, mau terus dipaksakan? Yakin?. Pasti sudah bisa dipastikan apabila diteruskan, pakai analisa yang dangkal saja sudah ketahuan hasilnya, pasti tidak akan bisa. Maka sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Nanti, tunggu waktu yang tepat.

    Kalau tetap berharap bisnis bisa buka di bulan Mei di tengah pandemi corona, memaksakan, yang ada pasti kecewa. Karena pastilah sudah tidak ada yang membeli, padahal itu awal launching, ini akan membuat kita down. Baru memulai, sudah gagal. Sakit kan pasti sakit. sehingga yang menjadi pertanyaan bagaimana kita mendudukkan quote tersebut?

    Kalau aku secara pribadi memaknai kalimat/quote/ seruan itu dengan, bahwa kita harus membuat harapan atau biasa yang kita sebut targetan dalam setiap lini kehidupan kita. baik masalah pekerjaan, belajar, keuangan, pasangan dan lain sebagainya. Usaha semaksimal mungkin untuk mencapai segala target yang telah dibuat, lalu ikhlas. Bahwa ada hal yang di luar prediksi kita yang dapat muncul tiba-tiba dan akhirnya sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan tersebut. bentuk sikap yang muncul ketika bentuk pengaplikasiaanya demikian, adalah berusaha dengan keras, namun ketika belum sesuai dengan yang diharapkan sikap yang muncul adalah legowo. Memikirkan dengan jernih salahnya di mana, dan akhirnya mencoba untuk bangkit kembali dan mencoba menginovasi cara dan menjalankan usaha yang baru tersebut.

    Sekarang ketika aku coba menerapkan hal tersebut, baik dalam pekerjaan, target belajar, percintaan, pertemanan dan hal-hal yang lain, aku menjadi orang yang tidak takut dalam mengambil keputusan, dan  siap akan segala konsekuensi yang nantinya akan ditemui. Satu hal yang harus dalam membuat harap kita harus rasional, dan petakan segala hal yang bisa mempengaruhi tercapainya tujuan tersebut. Apabila hal tersebut sudah dilakukan, maka hal tersebut jauh lebih membuat kita legowo dengan segala apapun yang akan terjadi nantinya.

    Aku pernah menerapkan langsung konsep berpikir ini, dan berkesan juga sih akhirnya terus diingat, hehehe. Di awal tahun 2019, teman dekat saya mencoba mengajak untuk know each other. Kita sadar bahwa sudah layaknya kita mencari siapa seseorang yang tepat untuk menjadi calon pendamping. Yang siap selalu ada di up and down condition. Namun dari awal hal yang patut kita ingat bahwa hubungan ini harus dibangun dengan rasional yang lebih besar dibandingkan dengan perasaan. Pada suatu titik, ketika kita sudah berdiskusi bahwa kedua diantara kita tidak bersatu dikarenakan jarak, dan akhirnya kita harus memutuskan hubungan tersebut. memang ada rasa sakitnya, pasti. Namun pada saat itu aku merasa lebih menjadi orang yang realistis dan legowo.

    Tetap berusaha untuk bisa mencapai itu, namun setelah itu ikhlaskan semuanya pada Tuhan. Dengan begitu, hal-hal yang tidak tercapai dalam hidup kita tidak membuat bekas luka yang akhirnya membuat kita tidak mau mencoba lagi. hal ini juga membuat kita lebih dewasa, dan bijak dalam bersikap. do the best, setelah itu ikhlasan. dengan begitu kita akan mudah nantinya mengevaluasi kesalahan kita. 


Wrote by Fadilla Arfa Reyza
Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

LATEST POSTS

  • Kecanduan AI
        Pasca ujian tesis saya disibukkan dengan kegiatan apply kerja. dalam proses tersebut saya harus meng- update CV, linkedin, dan membuat ...
  • Haruskah ku mengikuti arus? Atau keluar dari arus?
    Keresahan mengenai efek yang diakibatkan dari digitalisasi membuat saya sering bingung dan kepikiran sebelum tidur. Mulai dari kemaanan data...
  • Refleksi Dari Pengguna Spotify Gratisan
         Aku termasuk orang yang suka banget dengerin musik. Kalau ingin moodnya happy, tinggal puterin musik-musik up-beat. Nah kalau pengen se...
  • (tanpa judul)
      Hutang Batinku Lunas Mengulur waktu sedikit ke pandemi kemarin, masih ingat sekali bosannya kemarin hanya di dalam kamar kos ukuran 4 x 3....
  • TANGKAHAN, MENGAJARIKU UNTUK MELAWAN BATAS
    Pergi ke tangkahan merupakan impian yang sudah kubulatkan untuk dicapai di tahun 2021. Ini berawal dari film semesta yang diproduseri oleh N...
  • Berpikir Kritis, Perlukah?
    Kita masih sering terjebak oleh pemahaman bahwa berpikir kritis hanya akan digunakan dalam ranah akademis. Bahwa penggunaan berpikir kritis ...
  • Narkoba, sebenarnya salah siapa?
    Beberapa hari ini, media cetak maupun media online ramai memberitakan mengenai tertangkapnya salah satu artis Indonesia karena menggunakan o...
  • Namun kali ini aku benar-benar Rindu
    Langit biru yang sendu Mengajakku untuk mengingat waktu bersamamu ibu Dua bulan lalu, ingat aku ketika sibuk-sibuknya kau dengan kerjam...
  • Anakku Sayang, Anakku Malang
    Kasus pelecehan pada anak bak jamur yang tumbuh pada waktu hujan. Belum lagi hilang ingatakan kita mengenai kasus kekerasan seksual yang ter...
  • Jangan Banyak berharap, Nanti Banyak Sakitnya
           Quote ini sering sekali muncul di feed instagram pebisnis muda, young entrepreneur dan isntagram sejenisnya lah. Ini adalah Quote ...

Advertisement

3/random/post-list
Diberdayakan oleh Blogger.

Link List

  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Learn Blogging
  • Documentation
  • _Web
  • _Video
  • Download This Template

About me

Laporkan Penyalahgunaan

Refleksi Dari Pengguna Spotify Gratisan

     Aku termasuk orang yang suka banget dengerin musik. Kalau ingin moodnya happy, tinggal puterin musik-musik up-beat. Nah kalau pengen se...

Cari Blog Ini

Blog Archive

  • ()
  • Beranda

NEWSLETTER

Get All The Latest Updates Delivered Straight Into Your Inbox For Free!

FACEBOOK

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Dilla Punya Cerita . Designed by OddThemes & Blogger Templates