Quote ini sering sekali muncul di feed instagram pebisnis muda, young entrepreneur dan isntagram sejenisnya lah. Ini adalah Quote dari Bob Sadino seorang pebisnis yang memulai usaha dari Nol dan akhirnya bisa memiliki banyak anak perusahaan. Kalimat ini seperti mata pisau. Bisa baik bisa buruk juga. Tergantung yang memaknainya. Biasanya quote itu isinya baik ya, dikaji bagaimanapun hasilnya adalah baik. karena tujuan dari quote bagaimana orang itu bangkit dan akhirnya bisa menuju ke arah yang lebih baik. karena yang biasanya suka membaca quote adalah orang yang lagi galau gitu, full with emotion jadi ketika salah baca quote begitu takutnya malah salah dalam memaknai, karena menafsirkannya dengan perasaan.
Ketika ada seruan “Jangan banyak berharap, karena pasti banyak sakitnya”, maka membuat seseorang menjadi seorang yang tak punya target, tak punya tujuan mengenai apa yang hendak ia capai. ya sudah jalani, misalnya dalam perkuliahan. Tak usah lah berharap memiliki nilai yang baik, prestasi secara akademik dan non akademik. Karena ketika hal tersebut tidak dapat tercapai maka kamu akan merasakan sakit. biarkanlah berjalan begitu saja. Apabila diterapkan dalam dunia karir. Kita misalkan saja, seseorang ini bekerja sebagai marketing, maka sikap yang akan muncul dari aplikasi akan quote tersebut adalah ya tidak usahlah memiliki target yang banyak dalam menjual produk, laku tak laku yang penting happy, karena apabila tidak mencapai target depresi nanti. Apakah lantas demikian? Jawabnya pastilah tidak.
Bagi siswa yang tidak memiliki target dalam belajarnya, ok dalam waktu jangka pendek ketika ia tidak mencapai target tersebut ia tidak menjadi orang yang depresi. Namun secara dampak yang jangka panjang bagaimana? Ia lulus tanpa memiliki keahlian apapun. Padahal ia telah berjuang banyak, waktu, tenaga, uang dan sumber daya lainya namun hasilnya adalah nihil. Karena kita tidak memiliki harap/ target dalam belajar dan akhirnya ia tidak bisa berkontribusi apa-apa dalam masyarakat. Begitupun dengan berkarir, ketika tidak memiliki target maka ia akan dipecat dan untuk kedepan juga bakalan sulit untuk mendapatkan pekerjaan karena ia dipecat akibat tidak memiliki prestasi dalam kerjanya. Setelah dikaji pastilah banyak dapat dampak buruknya.
Apa jadinya apabila kita menerapkan hal bertentangan dari quote tersebut “Banyak berharap, pasti akan bahagia”. Kita akhirnya membuat banyak harapan. Dalam hal belajar, dalam pekerjaan, dalam keuangan, dalam pertemanan dan lain sebagainya. Setiap lini dalam kehidupan ada targetnya dibuat secara rijid. Semakin tinggi harapannya maka semakin bahagia lah. Idealnya seperti itu. namun ternyata ada hal-hal yang diluar dari kedirian kita yang akhirnya menentukan tercapainya harapan/targetan yang kita buat. Misalnya saja begini, pada bulan Mei aku harus melaunchingkan bisnis jajanan bakso tahu, yang target pasarnya adalah anak sekolah. Sudah ditentukan pasarnya, brand nya seperti apa, sudah menentukan harga, tempat, dan bahkan panjar untuk sewa tempat. Namun ternyata pandemi corona datang, mau terus dipaksakan? Yakin?. Pasti sudah bisa dipastikan apabila diteruskan, pakai analisa yang dangkal saja sudah ketahuan hasilnya, pasti tidak akan bisa. Maka sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Nanti, tunggu waktu yang tepat.
Kalau tetap berharap bisnis bisa buka di bulan Mei di tengah pandemi corona, memaksakan, yang ada pasti kecewa. Karena pastilah sudah tidak ada yang membeli, padahal itu awal launching, ini akan membuat kita down. Baru memulai, sudah gagal. Sakit kan pasti sakit. sehingga yang menjadi pertanyaan bagaimana kita mendudukkan quote tersebut?
Kalau aku secara pribadi memaknai kalimat/quote/ seruan itu dengan, bahwa kita harus membuat harapan atau biasa yang kita sebut targetan dalam setiap lini kehidupan kita. baik masalah pekerjaan, belajar, keuangan, pasangan dan lain sebagainya. Usaha semaksimal mungkin untuk mencapai segala target yang telah dibuat, lalu ikhlas. Bahwa ada hal yang di luar prediksi kita yang dapat muncul tiba-tiba dan akhirnya sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan tersebut. bentuk sikap yang muncul ketika bentuk pengaplikasiaanya demikian, adalah berusaha dengan keras, namun ketika belum sesuai dengan yang diharapkan sikap yang muncul adalah legowo. Memikirkan dengan jernih salahnya di mana, dan akhirnya mencoba untuk bangkit kembali dan mencoba menginovasi cara dan menjalankan usaha yang baru tersebut.
Sekarang ketika aku coba menerapkan hal tersebut, baik dalam pekerjaan, target belajar, percintaan, pertemanan dan hal-hal yang lain, aku menjadi orang yang tidak takut dalam mengambil keputusan, dan siap akan segala konsekuensi yang nantinya akan ditemui. Satu hal yang harus dalam membuat harap kita harus rasional, dan petakan segala hal yang bisa mempengaruhi tercapainya tujuan tersebut. Apabila hal tersebut sudah dilakukan, maka hal tersebut jauh lebih membuat kita legowo dengan segala apapun yang akan terjadi nantinya.
Aku pernah menerapkan langsung konsep berpikir ini, dan berkesan juga sih akhirnya terus diingat, hehehe. Di awal tahun 2019, teman dekat saya mencoba mengajak untuk know each other. Kita sadar bahwa sudah layaknya kita mencari siapa seseorang yang tepat untuk menjadi calon pendamping. Yang siap selalu ada di up and down condition. Namun dari awal hal yang patut kita ingat bahwa hubungan ini harus dibangun dengan rasional yang lebih besar dibandingkan dengan perasaan. Pada suatu titik, ketika kita sudah berdiskusi bahwa kedua diantara kita tidak bersatu dikarenakan jarak, dan akhirnya kita harus memutuskan hubungan tersebut. memang ada rasa sakitnya, pasti. Namun pada saat itu aku merasa lebih menjadi orang yang realistis dan legowo.
Tetap berusaha untuk bisa mencapai itu, namun setelah itu ikhlaskan semuanya pada Tuhan. Dengan begitu, hal-hal yang tidak tercapai dalam hidup kita tidak membuat bekas luka yang akhirnya membuat kita tidak mau mencoba lagi. hal ini juga membuat kita lebih dewasa, dan bijak dalam bersikap. do the best, setelah itu ikhlasan. dengan begitu kita akan mudah nantinya mengevaluasi kesalahan kita.