Hutang Batinku Lunas
Mengulur waktu sedikit ke pandemi kemarin, masih ingat sekali bosannya kemarin hanya di dalam kamar kos ukuran 4 x 3. mau nonton bioskop ga buka, mau ke cafe takut tertular, mau jogging juga takut di keramaian. pokoknya semuanya aktivitas dilakukan di dalam rumah. ada satu aktivitas yang paling suka aku lakukan ketika sudah penat banget yaitu nonton konser Tulus di youtube. jatuh sukanya aku dengan dia memang sudah terjadi sejak kuliah dulu. jatuh suka ku beralasan, bukan karena rentetan lagu yang lagi trend aja, namun memang lagunya mengajarkan ku untuk jauh lebih memahami diri, lebih realistis dalam percintaan, dan mengajariku untuk belajar menjadi lebih baik dan bersemangat. sebut saja lagu Untuk Matahari, sewindu dan manusia kuat.
Perasaan selalu campur aduk ketika nonton konser virtual di youtube. tiba-tiba bisa nangis sendiri karena mengasihi diri yang sudah patah semangat dan masih belum bertindak yang bodoh, menangis karena mengenang orang-orang yang sudah banyak memberikan warna pada kehidupan ini, dan tiba -tiba bisa ikutan baper karena lagu yang berbau falling in love dan bisa saja tiba-tiba menjadi berenergi karena bersemangat dengan lagunya. Wahhh nonton secara virtual aja bisa begini gejolak emosinya. Apalagi menontonnya secara langsung batinku. Akhirnya menonton konser tulus menjadi wishlist yang harus aku lakukan setelah pandemi.
Setelah dua tahun tidak boleh adanya konser dan pada akhirnya maret 2022 Sandiaga Uno selaku menteri pariwisata dan ekonomi kreatif mengumumkan bahwa konser sudah diperbolehkan. wah senang pastinya karena sepertinya keinginanku akhirnya bisa terwujud. Sempat aku tunggu-tunggu dan aku juga kepoin juga untuk IG teman tulus. ternyata belum ada list konser tulus dalam waktu dekat. Keinginan untuk ini menghilang secara tidak sengaja karena tugas luar kota yang padat merayap.
Tetiba di pertengahan Oktober, temanku memberitahukan bahwa bakalan ada konser tulus di akhir november. Waktu itu sempat galau, karena tugas luar kota yang tak kunjung usai. Rasanya tidak realistis kalau akhirnya pulang dari Aceh ke Medan di tengah tugas luar kota yang perjalanan jauh sekali. Dengan hati yang tidak ikhlas akhirnya ku kubur dalam- dalam keinginan ku untuk nonton konser yang sudah ku idamkan sejak 2020 kemarin. Di pertengahan November aku mendapatkan arahan untuk pulang ke Medan karena alasan yang kurang baik memang dari kantor. Pada waktu itu perasaan antara sedih dan senang. Senangnya akhirnya aku bisa nonton konser Tulus di tanggal 4 November karena sudah diharuskan pulang ke medan di minggu ketiga. Sedihnya mulai overthinking tujuh keliling karena isu kantor yang kian men - drama. Ah sudahlah, kita hadapi saja apa yang sekarang begitu hiburku. Tanpa pikir panjang akhirnya tiketnya dibeli. Mau pilih yang di tribun yang utama, namun ternyata tiketnya sudah habis. akhirnya dapatlah di bagian tribun yang agak kesamping. Tapi biarlah yang penting aku nonton.
Pulang di minggu ketiga dengan kolega kantor dan sudah susun rencana sampai teknis perginya kapan, kalau kemalaman tidurnya dimana dan sampai menghafal lagu tulus bagi temanku yang belum hafal lagunya. Disepanjang jalan yang diputar lagunya tulus. Namun tiba-tiba ada kabar untuk tugas luar kota lagi, hiksss dalam batinku sepertinya akan gagal. Sempat resah dan ternyata bukan aku yang dipilih untuk dinas luar kota. dan ternyata teman ku satunya yang dia padahal juga sudah membeli tiket. namun dengan berat hati akhirnya dia harus batalkan itu.
Akhirnya tinggal lah aku dengan temanku yang satunya. Aku awalnya agak kikuk keluar sama cowok dan berdua. Ah cuman pikirku kalau sendirian ntar bakalan ribet untuk pulangnya karena kemalaman juga kan. akhirnya kami berdua sepakat untuk tetap menghadiri konsernya, meskipun tanpa adanya temanku yang satunya. H-1 sebelum acaranya kami sudah langsung menukarkan tiket dan di sepanjang jalan aku merasa deg-degan, rasanya seperti mau ketemu cowok dari dating apps. “Finally besok aku akan ketemu dengan tulus,” sepanjang jalan rasa itu saja yang muncul.
Pas di hari H, dari bangun tidur wajahku sudah sumringah. Bergegas untuk pergi bekerja dan kusiapkan baju ternyaman untuk datang ke konser tulus. Sepanjang jalan mau pergi kerja, full nyanyi lagu Tulus. Sepulang presentasi dari sekolah tidak sengaja aku memakai gelang yang seharusnya dipakai ntar malam. Dan setelah dipakai tidak bisa dibuka lagi. teman temanku pada nyorakin “kemaruk”. Ah yah sudahlah biar dalam batinku, dan akhirnya aku timpa dengan jam biar tidak kelihatan.
Eng ing eng, malam jam 19.00 kami sudah ready, dan bergegas pergi ke tempat konser yaitu di Pardede Hall. Asli rame parah, mungkin karena efek sudah lama tidak menghadiri konser juga yah. Seluruh tribun terisi penuh. sebelum tulus naik ke atas panggung, kami dihibur oleh band lokal, yang lumayan menghibur. ada dace dari GJ manajemen, Apricot Band, Jeremia Frans feat Boys On Stage, dan finally di jam 09.00 Tulus naik ke atas panggung. Suara meriah dari seluruh tribun sambil teriak “Tulus, Tulus, Tulus”. uhhh merinding kalau mengingat moment tersebut.
Lagu pertama yang diputar adalah lagu 17, gemuruh suara sambil mengikuti beat musik. Rasa-rasanya energi ini ter charge 1000 % meskipun lelah seharian kerja. Untuk di awal awal diputar lagu dengan beat cepat, seperti Manusia Kuat, Labirin, dan berjalan ke lagu yang beatnya tidak begitu cepat seperti Sewindu, Jangan Cintai Aku Apa Adanya dan lagu Monokrom. Tiba-tiba tanpa disadari mata ini basah, bukan karena ngantuk tapi karena sendu. Sambil menghayati setiap lirik lagu monokrom, teringat wajah ibu, nenek, saudara dekat teman-teman yang sudah hadir dalam hidup, yang sudah ambil bagian mengisi cerita dalam hidupku. baik cerita bahagia, suka, sedih, kecewa, semua pasti ada pesan dari semuanya. langsung ku lap air mataku dan meneruskan untuk menghayati tiap lirik dan nyanyi bersama-sama orang satu tribun, itu pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. lagu terakhir ditutup dengan lagu hati-hati dijalan, sungguh apik. mengisyaratkan untuk Tulus meneruskan perjalanan untuk berbagi inspirasi melalui lagunya, dan kami untuk tetap kuat, tulus dan ikhlas menjalani hidup meneruskan cerita kami masing - masing.
k
0 komentar