Kecanduan AI
Pasca ujian tesis saya disibukkan dengan kegiatan apply kerja. dalam proses tersebut saya harus meng-update CV, linkedin, dan membuat cover letter. ada yang terasa berbeda. kemarin dalam penulisan tugas akhir saya memang banyak memanfaatkan Chatbot AI untuk mencari refrensi, mem-brainstorming outline dalam penulisan, bahkan kadang meminta ia untuk menjadi proofreader atas tulisan yang telah saya tulis. Terasa mudah memang, kalau dulu untuk menuliskan beberapa alinea, mesti harus membaca beberapa artikel, namun sekarang tinggal menuliskan promt sesuai dengan apa yang kita inginkan Chatbot AI akan menyajikan sesuai perintah. Sangking kecanduannya saya, kadang mau chat ke dosen saya meminta refrensi dari chatbot AI. Saya tinggal menuliskan, tujuan saya untuk menghubungi dosen, dan menjelaskan sedikit konteks, dan pesan pun jadi. Lalu tinggal kirim pesan tersebut kepada dosen. Sampai hal seremeh temeh itu, saya minta bantuan mesin.
Saya amati perilaku saya, ini akhirnya berdampak kepada saya ketika menulis cover letter, meng-update CV saya, kirim email ke HR, sampai wa untuk minta rekomendasi kepada atasan sebelumnya saya menggunakan chatbot AI. saya baca lagi tulisan tersebut, kok saya merasa kehilangan ruh, tulisannya terasa hambar, dan hal yang tersedih yang saya rasakan adalah mengapa akhirnya lebih percaya kepada mesin dibandingkan kemampuan sendiri. merasa kemampuan kritisnya hilang, merasa daya kreatifitasnya dimatikan.
Padahal dulu ketika saya belajar di S1 ada mata kuliah namanya penulisan. mata kuliah ini berjenjang, ada penulisan pertama dan penulisan kedua, dan diberikan bobot masing-masingnya 4 sks, ini berbeda dengan kepenulisan jurnalistik yah yang dimana ini dibahas di MKK (Mata Kuliah Keahlian). Ingat dulu, di pertemuan penulisan pertama, kami belajar menulis kalimat yang efektif, sampai belajar titik koma (penggunaan pungtuasi) yang tepat. tidak hanya tataran teori, tapi dipraktikkan, dan diusahakan untuk dibuat menjadi kebiasaan. Jadi kami memiliki grup dengan dosen, dan ada program yang di mana, tiap mahasiswa harus mengirimkan satu kalimat sesuai topik yang ditentukan, lalu setelah semua mahasiswa mengirimkan kalimat di grup, nantinya dosen akan memberikan evaluasi. Sampai sebegitunya dulu untuk mencapai skill kemampuan menulis.
Kebetulan saya menyukai mata kuliah penulisaan. Di mata kuliah penulisan kedua, saya sangat menyukai bagian penulisan opini. Ada perasaan yang senang karena bisa menyampaikan opini, dengan gagasan yang berdasar. Ingat sekali, ketika nilai saya tidak sesuai dengan harapan, saya sampai sebegitu sedihnya, nangis di balkon asrama sambil memegang tulisan yang sudah dinilai tidak sesuai harapan (menangis, karena sistem penilaian di kampus dulu Insyahlah objektif). Sampai sebegitu usahanya untuk bisa menulis. Akhirnya saya sungguh sedih ketika sekarang rasanya kemampuan itu sedikit demi sedikit hilang.
Dari proses tersebut saya ingin kembali membiasakan untuk tidak bergantung menggunakan chatbot AI untuk menulis. Kembalinya saya untuk mencoba lebih aktif menulis di blog sebagai ikhtiar untuk lebih menjaga skill menulis saya. Semoga Istiqomah…
0 komentar