Haruskah ku mengikuti arus? Atau keluar dari arus?

Keresahan mengenai efek yang diakibatkan dari digitalisasi membuat saya sering bingung dan kepikiran sebelum tidur. Mulai dari kemaanan data, saya yang sering FoMo ketika tidak mengetahui mengenai suatu hal, dan juga merasa tertinggal ketika saya tidak memiliki kemampuan untuk menegelola konten. Sebagai anak komunikasi, ada perasaan bahwa saya gagal karena komunikasi yang saya lakukan masih sebatas tulisan, saya belum mampu berkomunikasi lewat desain komunikasi audio-visual seperti konten yang mentereng di media sosial. Sampai-sampai saya pernah menjadikan itu sebagai target skill yang harus saya pelajari, namun lagi-lagi karena saya kurang berminat akhirnya tidak pernah kesampaian. 

Belakangan ini saya membaca buku dari Tom Nichols dengan judul The Death of Expertise. Saya beli buku ini sekitar september 2024, namun selesai dibaca November 2024, Hummm apakah ini efek dari lebih sering membuka media sosial. Entalah, lagi-lagi saya mencoba menyalahkan eksternal padahal kendali ada pada diri saya sendiri. 

Di buku tersebut menjelaskan secara sistematik, mengapa kita sekarang begitu menjadi manusia yang sangat praktis, dan mudah mempercayai berdasarkan apa yang paling atas muncul di atas beranda pencarian kita. Kebenaran bukan lah kebenaran yang sebenarnya, kebenaran adalah ketika informasi yang kamu cari sesuai dengan kepentingan dan prefensimu. Buku ini related banget kejadian yang sekarang... 

Sudah sampai paragraf ketiga saya bingung, saya mau mengulas buku atau menceritakan unek-unek...teman-teman yang punya waktu silahkan saja membaca sampai habis yah, semoga mendapatkan hikmah dari point of view saya mengenai era sekarang. 

Langkah untuk akhirnya mau menulis blog kembali dimulai karena membaca buku tersebut dan habis mendapatkan informasi dari kuliah tamu dengan tema "otoritas agama di era digital". Saya awalnya yang merasa bahwa saya gagal tidak mampu komunikasi secara audio-visual, akhirnya tergantikan dengan pandangan "tidak seharusnya saya mengikuti pasar", yang artinya kebanyakan orang. kalau memang saya tidak mampu mengubah keadaan yang menjadi lebih melek literasi, yang terpenting saya tidak terbawa arus. Menurut saya ya, konten-konten pendek sekarang membuat kita akhirnya malas untuk membaca, lebih parah dari itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran. belum selesai satu konten, kita dengan gampang untuk jump ke konten yang lainya. 

Dari yang saya amati secara keseluruhan, media mencekoki informasi berdasarkan apa yang disukai audience. Audience dibuat betah untuk lama-lama dengan gawainya. Tujuannya tidak lain tidak bukan adalah "uang". Jual produk-produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan, influencer akhrinya dapat kebagian untuk endorse, Ads bermunculan, dah lah intinya uang. kembali lagi mau mengikuti arus atau keluar dari arus? 

Bagi saya, kita tidak bisa mengutuk kemajuan teknologi sekarang, butuh bijak lagi untuk meimbang-nimbang lebih banyak manfaat atau mudhorotnya. Kalau memang butuh yah digunakan, yang terpenting bisa lebih aware dan mindful ketika menggunakan teknologi, tidak terbawa arus akhirnya malah membuat kita jauh dari kata produktif. Cuma saya mau berbagi sedikit pengalaman saya, semenjak saya break dari IG saya merasa jauh lebih tenang, dan menjadi lebih tidak praktis. Mengapa lebih tenang? saya bisa lebih fokus dengan diri saya, tanpa merasa takut ketinggalan hal yang sedang ter- update. Mengapa lebih tidak praktis, karena saya tidak lagi terburu-buru menonton potongan-potongan video yang sebenarnya saya tidak butuhkan. Memang tetap saya akhirnya mengganti waktu "me time" saya dengan menonton anime. Tapi langkah itu dilakukan karena secara mudhorot "bagi saya" tetap lebih banyak ketika menggunakan sosial media. 

Sekarang semua kembali lagi kepada butuhnya kamu.



Share:

0 komentar